Bangkit Kembali Pantau PEMILU 2019

Hadar Nafis Gumay : Peneliti Senior NETGRIT

 

Hadar Nafis Gumay, Salah seorang nara sumber, mengatakan bahwa pemantau pemilu 2019 jauh lebih banyak dibanding pemilu 2014. Ia menyambut positif dengan bertambahnya partisipasi pemantau. “Sejak reformasi, tertinggi partisipasi pemantau di Pemilu 1999. Setelah itu, semakin menurun,” jelas Hadar Nafis Gumay, peneliti senior Netgrit sekaligus pendiri Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI). Saat ini, menurut Bawaslu jumlahnya cukup tinggi. Ada 51 lembaga pemantau. “Pemilu 2019 menunjukan kebangkitan partisipasi masyarakat dalam pengawasan,” ungkap Hadar, eks anggota KPU-RI periode 2012 – 2017 di acara sosialisi pemantau yang diselenggarakan Bawaslu mulai tanggal 8 – 9 April 2019 di hotel Ashley – Jakarta Pusat.

Meningkatnya lembaga pemantau di Pemilu 2019 diharapkan mampu meningkatkan kualitas pemilu 2019. Oleh sebab itu, koordinasi pemantau sangat penting dilakukan agar tidak terjadi penumpukan pemantau di satu lokasi TPS. “Kami hanya memfokuskan pemantauan hasil penghitungan suara,” ungkapnya. Menurutnya memang banyak masalah yang nanti ditemukan dalam penghitungan suara di Pemilu 2019. Sayangnya, pemantau tidak bisa langsung atau terbatas dalam menyuarakan temuan pelanggaran. “Setidaknya, melalui Kawal Pemilu Jaga Suara 2019, kita bisa menjaga hasil sehingga pemilu 2019 dipercaya publik bila hasilnya sama dan sebagai koreksi apa bila ada kekeliruan,” harapnya. (TQ)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


13 − 2 =